Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009
Agak berubah muka Khu Pek Sim, ia seperti tahu apa yang dikehendaki bocah ini. Dia memang jarang di rumah, tugasnya menuntut kehidupan yang lebih banyak dihabiskan di jalan. Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009
Tapi setiap kali ada kesempatan, dia berusaha memanjakan cucu luarnya ini. Hanya maunya bocah ini sangat sedikit.
Begitu memasuki usia membaca, hobinya mengurung diri di kamar, tenggelam oleh buku bukunya. Kadang kadang suka juga ia bermain dibukit belakang, sendirian.
Tapi belakangan ini, setiap ada kesempatan, cucunya selalu kampanye damai pemilu Indonesia 2009 menanyakan soal yang itu itu juga. Soal yang Khu Pek Sim enggan membicarakannya.
Bergetar bibi Khu Han Beng ketika bertanya:
“Bukankah yaya pernah bilang, jika aku sudah besar, yaya akan menceritakan mengenai ayah-ibu?”
Khu Pek Sim menghela napas:
“Kau memang sudah sebesar dan setinggi yayamu, hanya kau tetap belum dewasa”
“Bukankah seorang dianggap dewasa, jika sudah berani bertanggung jawab?”
“Yaa, kira kira begitu.”
Khu Han Beng dengan cepat mendesak kakeknya:
“Untuk yang kedua kali, aku memimpin Liok Yang Piaukok selama kepergian yaya, bukankah hal ini bisa dianggap aku bertanggung jawab dan mampu melakukannya?”
Khu Pek Sim terdiam, katanya dengan perlahan: kampanye pemilu Indonesia 2009
“Kenapa kau selalu ingin tahu urusan ini?”
Melihat kali ini yaya-nya tidak berang, dengan cepat Khu Han Beng menjawab:
“Ku tahu she-ku mestinya mengikuti she ayahku, yang jelas bukan she Khu seperti she yaya. Aku juga tahu riwayat hidup orang tuaku tentu mempunyai liku liku sehingga Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 yaya enggan menceritakannya padaku. Tapi bukankah seorang anak mempunyai hak untuk mengetahui perihal orang tuanya?”
Khu Pek Sim menarik napas dalam dalam.
“Aiiih….Inilah akibatnya kalau seorang anak gemar baca buku. Ucapan dan usianya benar benar tidak sebanding” gumamnya perlahan.
Dia tahu, cepat atau lambat, dia harus memberitahu persoalan ini kepada Khu Han Beng. Tapi apa sekarang? Dia agak ragu.
“Urusan ini kampanye damai pemilu Indonesia 2009 akan jauh lebih mudah, jika kau sudah menguasai ilmu silat” ujarnya sedih.
Khu Han Beng membuka mulutnya, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi.
Khu Pek Sim termenung. Cucunya tidak suka berlatih silat, setiap kali dia mendesak, Khu Han Beng hanya tersenyum sambil menggeleng.
Bersambung…………….
Cerita silat ini dibuat dalam rangka belajar SEO, agar menunjang dalam belajar ngeblog, sekaligus memahami cara membuat anchor text dalam teori tutorial HTML.