Lau Cing-hong tersenyum pedih, jawabnya, “Orang she Lau ini mencari sahabat, yang diutamakan adalah kecocokan lahir batin satu sama lain. Mana boleh sahabat sendiri dibunuh demi untuk menyelamatkan diri sendiri? Jikalau Co-bengcu sudah pasti tidak dapat memaafkan, apa mau dikata lagi? Terserah kepada kebijaksanaan Co-bengcu saja. Masakah orang she Lau yang tidak punya pengaruh Pemilu Indonesia 2009 apa-apa berani melawannya? Memangnya segala apa sudah diatur oleh Ko-san-pay kalian. Boleh jadi peti mati bagiku mungkin juga sudah kalian sediakan. Kalau mau turun tangan boleh silakan saja, mau tunggu kapan lagi?”
Mendadak Hui Pin mengebakan panji kebesarannya. Serunya dengan suara lantang, “Para suheng dan sute dari Thay-san-pay, Hoa-san-pay, Hing-san-pay dan Kampanye Pemilu Heng-san-pay! Menurut pesan dari Co-bengcu, selamanya antara Cing-pay dan Sia-pay (golongan baik dan jahat) tidak pernah hidup bersama. Mo-kau dan Ngo-gak-kiam-pay kita telah mengikat permusuhan sedalam lautan. Sekarang Lau Cing-hong dari Heng-san-pay bersahabat dengan kaum penjahat dan menggabungkan diri kepada musuh. Setiap anggota Ngo-gak-kiam-pay kita harus membunuhnya bersama-sama. Siapa yang tunduk kepada perintah Co-bengcu ini hendaklah berdiri ke sisi kiri.”
Tertampaklah Thian-bun Tojin yang pertama-tama bangkit dan berjalan ke sebelah kiri dengan langkah lebar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Lau Cing-hong. Kiranya gurunya Thian-bun Tojin dahulu telah ditewaskan oleh seorang gembong wanita dari Mo-kau. Sebab itulah bencinya terhadap rahasia google Mo-kau boleh dikata merasuk tulang sumsum. Maka begitu dia menyisihkan diri ke sebelah kiri, segera anak muridnya juga ikut ke sebelah sana.
Orang kedua yang bangkit adalah Gak Put-kun. Katanya, “Lau-hiante, asal kau manggut saja, maka orang she Gak ini akan mewakilkan kau membereskan Kik Yang itu. Kau bilang seorang jantan jangan sekali-sekali menghianati sahabat. Apakah di dunia ini hanya Kik Yang seorang saja adalah sahabatmu? Apakah orang-orang Ngo-gak-kiam-pay kita dan para ksatria yang membuat website hadir di sini bukanlah sahabatmu? Ratusan, ribuan sahabat dari kalangan persilatan ini begitu mendengar engkau handak mengundurkan diri dari dunia persilatan, serentak mereka lantas datang dari tempat jauh untuk mengucapkan selamat kepadamu dengan segala ketulusan hati. Apakah tindakan mereka ini belum dapat dianggap sebagai sahabat? Sekalipun tutorial HTML Kik Yang itu mahir memetik harpa, apa karena itu lalu jiwa segenap keluargamu serta persahabatan antara Ngo-gak-kiam-pay kita dan kawan-kawan yang hadir di sini kurang berharga daripada persahabatan dengan Kik Yang seorang?”
Perlahan-lahan Lau Cing-hong menggelengkan kepala, sahutnya, “Gak-suheng, engkau adalah orang terpelajar dan tentu tahu apa yang pantas dilakukan seorang laki-laki sejati dan apa yang tidak patut diperbuat. Nasihatmu yang baik itu kuterima juga dengan rasa terima kasih. Akan tetapi foto cewek 17 tahun gratis orang lain memaksa aku membunuh Kik-toako, hal ini sekali-kali tidak dapat kulakukan. Sama halnya bila ada orang yang memaksaku membunuh engkau Gak-suheng atau salah seorang kontes SEO kampanye pemilu sahabat yang hadir di sini. Biarpun seluruh anggota keluargaku tertimpa bencana juga takkan kulakukan. Kik-toako adalah sahabatku yang paling karib, hal ini sudah terang. Tapi Gak-suheng juga adalah sahabat baikku. Dan bila Kik-toako sampai membuka suara bermaksud mencelakai salah seorang sahabatku dari Ngo-gak-kiam-pay, maka perbuatannya itu tentu akan kupandang hina dan takkan menganggapnya sebagai sahabat lagi.”
Karena ucapan Lau Cing-hong ini sangat sungguh-sungguh dan tulus kedengarannya, mau-tak-mau tergerak juga perasaan para ksatria. Maklumlah orang-orang persilatan paling mengutamakan budi setia antar kawan. Sedemikian tegas Lau Cing-hong membela Kik Yang, diam-diam para ksatria merasa gemas juga akan jiwa luhur tokoh Heng-san-pay itu.
“Lau-hiante,” ujar Gak Put-kun. “Ucapanmu ini terang tidak betul. Lau-hiante mengutamakan setia kawan, hal ini memang mengagumkan. Tapi untuk itu juga harus dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, antara yang betul dan yang salah. Selama ini Mo-kau telah banyak berbuat kejahatan. Tidak sedikit orang Kangouw yang baik-baik telah menjadi korban keganasannya. Begitu pula menambah widget header rakyat jelata yang tidak berdosa. Lau-hiante sendiri hanya karena merasa cocok dan sepaham dalam hal main musik lantas segenap jiwa anggota keluargamu juga kau pertaruhkan untuknya. Rasanya engkau telah salah mengartikan ‘setia kawan’ yang kau junjung tinggi itu.”
Lau Cing-hong tersenyum hambar, katanya, “Gak-toako, engkau tidak suka seni suara, makanya tidak paham maksudku yang mendalam. Hendaklah maklum bahwa dalam ucapan dan kata-kata, orang dapat berdusta dan membohong. Tapi dalam seni musik, suara harpa dan seruling adalah suara hati yang tidak dapat dipalsukan atau dibikin-bikin. Kik-toako bersahabat denganku berdasarkan perpaduan suara harpa dan seruling. Jiwa kami telah saling mengikat. Aku bersedia menganggungnya dengan belajar ngeblog yang benar segenap jiwa anggota keluargaku bahwa Kik-toako meski betul adalah orang Mo-kau, tapi beliau sedikitpun tidak berbau jahat seperti orang Mo-kau yang lain.”
Gak Put-kun menghela napas panjang. Dia tidak bicara lagi terus berjalan ke sebelah Thian-bun Tojin. Segera Lo Tek-nau, Gak Leng-san, Liok Tay-yu dan lain-lain mengikuti jejak sang guru.
Sekarang bergilir atas diri Ting-yat Suthay. Dengan belajar SEO tajam ia menatap Lau Cing-hong. Katanya, “Selanjutnya aku tetap memanggil Lau-hiante padamu atau menyebut Lau Cing-hong saja?”
Lau Cing-hong tersenyum getir, sahutnya, “Jiwa orang she Lau ini hanya tergantung sekejap lagi. Selanjutnya Suthay tiada sempat memanggil padaku lagi.”
Ting-yat Suthay merangkap tangannya dan menyebut Budha, lalu perlahan-lahan berjalan ke sebelah Gak Put-kun dengan diikuti oleh anak muridnya.
“Urusan ini hanya menyangkut Lau Cing-hong seorang,” sahut Hui Pin kemudian. “Maka gambar dan film gratis tiada sangkut pautnya dengan murid-murid Heng-san-pay yang lain. Para murid Heng-san-pay yang tidak ikut membantu kejahatan dan mau sadar kembali boleh berdiri semua ke sebelah kiri.”