Suasana di ruangan sidang menjadi sunyi senyap. Selang sejenak, seorang laki-laki setengah umur telah berseru, “Lau-supek, maafkanlah kami!” Lalu ada belasan murid Heng-san-pay menyingkir dan berdiri di sebelah Ting-yat Suthay. Mereka adalah murid keponakan Lau Cing-hong. Sedangkan Pemilu Indonesia 2009 tokoh Heng-san-pay angkatan tua yang sebaya dengan Lau Cing-hong kali ini tidak ada yang datang.
“Murid keluarga Lau sendiri disilakan juga berdiri ke sisi kiri!” seru Hui Pin pula.
Tapi Hiang Tay-lian lantas berseru lantang, “Kami telah menerima budi besar dari perguruan. Bilamana Suhu ada kesukaran, sudah seharusnya rahasia google kami ikut memikul tanggung jawab. Kini para murid keluarga Lau bertekad sehidup-semati dengan Suhu.”
“Bagus! Bagus!” kata Lau Cing-hong dengan air mata bercucuran saking terharunya. “Tay-lian, dengan ucapanmu ini kau sudah cukup berbakti kepada gurumu. Bolehlah kalian berdiri ke sebelah sana saja. Suhu sendiri yang berbuat, sedikitpun tiada sangkut pautnya dengan kalian.”
“Sret,” mendadak Bi Wi-gi melolos pedang. Serunya, “Para murid keluarga Lau sudah tentu bukan tandingan Ngo-gak-kiam-pay. Tapi urusan hari ini tiada pilihan lain kecuali menghadapi dengan kematian. Siapa yang berani mengganggu guru kami boleh membuat website silakan membunuh dulu orang she Bi ini!” Habis berkata ia terus berdiri di depan Lau Cing-hong dengan gagah berani.
“Huh, mutiara sebesar beras juga mau coba-coba bersinar?” ejek Hui Pin. Mendadak tangan kirinya bergerak. “Crit”, sejalur sinar perak yang kecil terus menyambar ke depan secepat kilat.
Lau Cing-hong terkejut, cepat ia tolak lengan kanan Bi Wi-gi sehingga murid itu terlempat ke samping dengan sempoyongan, sedangkan sinar perak kecil itu terus menyambar ke dada Lau Cing-hong.
Lantaran ingin melindungi sang guru, tanpa pikir Hiang Tay-lian terus menubruk maju. Maka terdengarlah jeritannya yang ngeri. Sinar perak yang berwujud jarum itu tepat menancap di tengah ulu hatinya. Kontan ia roboh dan binasa.
Dengan tangan kirinya, Lau Cing-hong masih sempat merangkul tubuh muridnya itu. Ia coba periksa pernapasannya, dan ternyata sudah putus. Ia menoleh dan berkata kepada Ting Tiong, “Lo-loji, adalah Ko-san-pay kalian yang lebih dulu membunuh muridku!”
“Benar,” sahut Ting Tiong. “Memang kami yang turun tangan lebih dulu. Lalu kau mau apa?”
Mendadak Lau Cing-hong angkat jenazah Hiang Tay-lian terus dilemparkan ke arah Ting Tiong. Melihat tenaga lemparannya itu, Ting Tiong tahu lwekang Heng-san-pay memang tutorial HTML mempunyai keistimewaannya sendiri, apalagi Lau Cing-hong adalah tokoh terkemuka dari Heng-san-pay. Tentu tenaga yang digunakan tidak boleh dipandang enteng. Maka diam-diam iapun menghimpun tenaga dan siap menyambut datangnya tubuh tak bernyawa itu untuk kemudian akan dilemparkan kembali.
Tak terduga gerakan Lau Cing-hong itu ternyata hanya pancingan belaka. Tampaknya foto cewek 17 tahun gratis jenazah itu dia sodorkan ke depan tapi mendadak ia melompat ke samping. Jenazah itu diangkat dan disodorkan kepada Hui Pin. Karena datangnya terlalu cepat dan juga tidak tersangka-sangka, terpaksa Hui Pin mengerahkan tenaga pada kedua tangannya untuk menahan di depan dada. Tapi pada saat yang hampir bersamaan, tahu-tahu bawah iganya terasa kesemutan. Nyata Hiat-to bagian iga telah kena ditotok oleh Lau Cing-hong.
Sekali serangannya berhasil, secepat kilat tangan kirinya lantas digunakan untuk kontes SEO kampanye pemilu merampas panji pancawarna dari tangan lawan. Tangan kanan berbareng melolos pedang terus dipalangkan di depan tenggorokan Hui Pin. Jenazah Hiang Tay-lian dibiarkannya jatuh ke lantai.
Beberapa gerakan dan perubahan yang teramat cepat ini, Hui Pin kena dibekuk dan panji kebesarannya kena dirampas. Setelah semuanya ini terjadi barulah para hadirin sadar akan apa yang sudah terjadi. Yang digunakan Lau Cing-hong itu adalah kepandaian Heng-san-pay yang hebat, namanya ‘Pek-pian-jian-yu-cap-sah-sik’ (tiga belas gerakan dengan beratus macam perubahan).
Sudah lama Thian-bun Tojin, Gak Put-kun dan tokoh-tokoh lain mendengar tentang ilmu silat andalan Heng-san-pay itu. Ada juga di antaranya pernah menyaksikan anak murid Heng-san-pay menggunakan kepandaian itu, tapi kalau dibandingkan caranya Lau Cing-hong yang hebat tadi sungguh bedanya seperti langit dan bumi.
Kiranya ilmu ‘Pek-pian-jian-yu-cap-sah-sik’ itu adalah ciptaan tokoh seorang angkatan tua Heng-san-pay di masa yang lalu. Tokoh ini hidupnya dari main sulap di samping menambah widget header memiliki ilmu silat yang amat tinggi. Sampai hari tuanya, kepandaiannya main sulap makin tinggi, kepandaian ilmu silatnya juga makin lihay. Akhirnya dia telah mencampurkan kedua macam ilmu kepandaiannya itu sehingga ilmu silatnya itu sedemikian lihainya seakan-akan orang main sulap saja. Dasar sifat tokoh angkatan tua itu memang jenaka, maksudnya menciptakan ilmu silat bergaya sulap itu sebenarnya belajar ngeblog yang benar hanya sekadar untuk permainan saja. Tak disangka akhirnya ilmu silat yang hebat itu telah menjadi salah satu di antara tiga jenis ilmu andalan Heng-san-pay.
Sejak Lau Cing-hong mempelajari ilmu silat yang hebat itu belum pernah ia gunakan terhadap lawan. Siapa duga sekarang untuk pertama kalinya dipraktekkan terhadap jago Ko-san-pay seperti Hui Pin yang sesungguhnya tidak kalah lihay dari Lau Cing-hong dan tahu-tahu telah berhasil menawan musuh secara menakjubkan.
Maka sambil tangan kiri mengangkat panji pancawarna ke atas, tangan kanan dengan pedang melintang di depan tenggorokan Hui Pin, segera Lau Cing-hong berseru, “Ting-suheng dan Liok-suheng, secara sembrono aku telah merampas panji pimpinan Ngo-gak kita. Sesungguhnya gambar dan film gratis aku pun tidak berani mengancam apa-apa kepada kalian. Maksudku hanya ingin mohon pengertian kalian saja.”
Ting Tiong saling pandang sekejap dengan Liok Pek. Pikir mereka, “Hui-sute telah jatuh di bawah cengkramannya, terpaksa kita harus menurut kepada apa yang dia inginkan.”
Segera Ting Tiong menjawab, “Apa yang hendak kau katakan lagi?”
“Mohon Ting-suheng berdua suka menyampaikan kepada Co-bengcu agar aku diperbolehkan mengasingkan diri bersama segenap anggota keluargaku. Selanjutnya belajar SEO aku takkan ikut sesuatu urusan dalam Bu-lim lagi,” demikian kata Lau Cing-hong. “Adapun hubunganku dengan Kik-toako juga terbatas sampai di sini saja. Selanjutnya kami takkan bertemu pula, begitu pula dengan para sahabat yang hadir di sini ini. Aku akan membawa segenap keluargaku pergi jauh dari sini. Selama hidup ini takkan menginjak kembali ke tanah Tionggoan sini.”