Tanpa bicara lagi Ban Tay-peng lantas angkat pedangnya terus membacok. Kontan tubuh Lau Jing tertabas menjadi dua dari bahu kanan menurun ke pinggang sebelah kiri.
Sementara itu murid-murid Ko-san-pay yang lain seperti Su Ting-tat dan lain-lain juga tidak tinggal diam. Satu persatu mereka pun membunuh murid-murid Heng-san-pay yang berada di dalam rahasia google cengkraman mereka tadi.
Melihat pembunuhan secara tak kenal ampun demikian, biarpun para hadirin yang hidupnya juga selalu bergelimangan di ujung senjata juga merasa ngeri. Ada beberapa orang tokoh angkatan tua mestinya bermaksud melerai, namun cara turun tangan jago-jago Ko-san-pay itu benar-benar teramat cepat. Baru sekejap saja di ruangan sidang Pemilu Indonesia 2009 itu mayat sudah bergelimpangan.
Bila diingat bahwa selamanya antara golongan yang baik dan yang jahat tidak pernah berdiri bersama. Walaupun tindakan Ko-san-pay ini dirasakan agak terlalu ganas, namun tujuannya membuat website bukanlah menuntut balas kepada Lau Cing-hong, tapi adalah terhadap Mo-kau yang merupakan musuh bebuyutan, maka apa yang dilakukan orang-orang Ko-san-pay itu dapatlah dimengerti. Pula waktu itu Ko-san-pay sudah menguasai keadaan, sampai-sampai Ting-yat Suthay dari Hing-san-pay juga terpaksa tinggal pergi tanpa bisa berbuat apa-apa. Tokoh lain seperti Thian-bun Tojin, Gak Put-kun juga hanya diam saja, dengan sendirinya orang luar lebih-lebih tutorial HTML tidak berani ikut campur mengenai urusan dalam Ngo-gak-kiam-pay mereka itu.
Sementara itu, sesudah terjadi penyembelihan demikian, anak murid Lau Cing-hong sudah terbunuh semua dan hanya tinggal seorang putra kesayangan Lau Cing-hong yang paling kecil. Namanya Lau Kin.
Usia Lau Kin baru saja 15 tahun. Wajahnya cakap otaknya cerdas. Sebelumnya Liok Pek sudah menyelidiki keluarga Lau Cing-hong dengan jelas bahwa bocah ini paling disayang oleh ayahnya. Maka sekarang ia pun hengak menundukkan Lau Cing-hong melalui bocah itu. Segera ia berkata kepada Su Ting-tat, “Coba kau tanya bocah itu mau minta ampun atau tidak. Jika tidak, potong saja hidungnya, lalu daun kupingnya, kemudian congkel biji matanya. Biarkan dia tahu rasa.”
Su Ting-tat mengiakan. Lalu berpaling kepada Lau Kin dan bertanya, “Ayo, kau mau minta ampun atau tidak!”
Wajah Lau Kin tampak foto cewek 17 tahun gratis pucat dan badannya gemetaran.
“Anak yang baik,” kata Lau Cing-hong. “Kakak-kakakmu telah mati dengan gagah berani. Kalau mati biar mati, kenapa mesti takut?”
“Akan tetapi… akan tetapi mereka… mereka hen… hendak memotong hidungku dan… dan mencongkel mataku, Ayah… “ sahut Lau Kin dengan gemetar.
“Hahahaha!” Lau Cing-hong tertawa. “Keadaan sudah begini masalah kontes SEO kampanye pemilu kau masih berharap akan diampuni oleh mereka?”
“Ayah, kau.. kau boleh me… menyanggupi akan mem… membunuh paman Kik…”
“Cih!” damprat Lau Cing Hong sebelum putranya bicara lebih lanjut. “Kau bilang apa, binatang?”
Sementara itu Su Ting-tat sengaja mengangkat pedangnya dan dibolak-balik di depan hidung Lau Kin sambil mengancam, “Lekas berlutut dan minta ampun! Kalau tidak segera kupotong hidungmu! Satu… dua…”
Belum lagi dia mengucapkan ‘tiga’, cepat sekali Lau Kin sudah tekuk lutut dan memohon, “Jang… jangan membunuh aku…”
“Hahahaha! Untuk mengampuni kau juga boleh asalkan kau mesti mencela kesalahan Lau Cing-hong di depan para ksatria yang hadir di sini,” seru Liok Pek dengan tertawa.
Dengan ketakutan Lau Kin berpaling ke arah ayahnya. Sinar matanya penuh rasa mohon dikasihani. Lau Cing-hong tetap tenang-tenang saja sejak tadi walaupun menambah widget header menyaksikan anak istrinya terbunuh. Tapi sekarang dia benar-benar sudah teramat gusar. Bentaknya, “Binatang cilik! Apakah kau tidak punya perasaan? Lihatlah bagaimana keadaan ibumu dan kakak-kakakmu!”
Tapi bukannya menjadi tabah, sebaliknya Lau Kin tambah takut demi memandang jenazah ibu dan para kakaknya yang bergelimpangan darah itu. Apalagi pedang Su Ting-tat masih terus Music kampanye berkelebatan di depan hidungnya. Segera ia memohon kepada Liok Pek, “Aku mohon… mohon dengan sangat, sudilah kau meng… mengampuni ayahku.”
“Ayahmu telah bersekongkol dengan orang jahat dari Mo Kau. Kau bilang betul tidak perbuatannya itu?” tanya Liok Pek.
“Ti… tidak betul!” sahut Lau Kin dengan suara lemah.
“Orang demikian pantas dibunuh atau tidak?” tanya Liok Pek lagi.
Lau Kin tidak berani menjawab. Kepalanya menunduk ke bawah.
“Bocah ini tidak belajar ngeblog yang benar mau bicara. Boleh kau bunuh dia saja,” kata Liok Pek.
Su Ting-tat mengiyakan. Ia tahu apa yang dikatakan sang paman guru itu hanya untuk menggertak saja, maka iapun pura-pura angkat pedangnya seperti akan menebas ke bawah.
Lau Kin menjadi ketakutan dan cepat-cepat menjawab, “Ya, pan… pantas dibunuh!”
“Bagus!” kata Liok Pek dengan tertawa. “Sejak belajar SEO kini kau bukan lagi orang Heng-san-pay dan juga bukan putranya Lau Cing-hong. Aku mengampuni jiwamu.”
Rupanya saking takutnya sehingga kedua kaki Lau Kin terasa lemas semua dan tidak kuat bangkit.
Melihat tingkah laku bocah itu, para ksatria merasa gemas dan memandang hina kepadanya. Bahkan ada yang terus berpaling ke arah lain dan tidak sudi memandangnya.
Tiba-tiba Lau Cing-hong menghela napas panjang, katanya, “Orang she Liok, kaulah yang menang!” Mendadak ia lemparkan panji pancawarna itu kepada Liok Pek, berbareng kaki kiri mendepak sehingga Hui Pin jatuh terguling. Lalu serunya lagi, “Seorang she Lau sudah mengaku kalah, rasanya gambar dan film gratis juga tidak perlu banyak menimbulkan korban lagi.” Segera ia palangkan pedang sendiri terus hendak menggorok leher untuk membunuh diri.
Pada saat itulah tiba-tiba dari atas emper rumah melayang turun sesosok bayangan hitam dengan gerakan secepat kilat. Sekali tangannya menjulur, tahu-tahu pergelangan tangan Lau Cing-hong sudah terpegang. Terdengar orang itu membentak, “Seorang laki-laki harus membalas dendam, untuk tutorial HTML mana sepuluh tahun lagi juga belum terlambat. Pergi!” Berbareng orang itu terus menyeret Lau Cing-hong dan berlari ke luar.
“Kik-toako!” seru Lau Cing-hong.