<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule">

<channel>
	<title>Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009</title>
	<atom:link href="http://nagalangit.bedeng.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nagalangit.bedeng.com</link>
	<description>Sukseskan Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009</description>
	<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 23:38:20 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>SEO inilah yang tak beretika</title>
		<link>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/10/seo-inilah-yang-tak-beretika/</link>
		<comments>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/10/seo-inilah-yang-tak-beretika/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 23:38:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ateonsoft</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009]]></category>

		<category><![CDATA[Kampanye Damai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nagalangit.bedeng.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Tanpa bicara lagi Ban Tay-peng lantas angkat pedangnya terus membacok. Kontan tubuh Lau Jing tertabas menjadi dua dari bahu kanan menurun ke pinggang sebelah kiri.
Sementara itu murid-murid Ko-san-pay yang lain seperti Su Ting-tat dan lain-lain juga tidak tinggal diam. Satu persatu mereka pun membunuh murid-murid Heng-san-pay yang berada di dalam rahasia google cengkraman mereka tadi.
Melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanpa bicara lagi Ban Tay-peng lantas angkat pedangnya terus membacok. Kontan tubuh Lau Jing tertabas menjadi dua dari bahu kanan menurun ke pinggang sebelah kiri.<br />
Sementara itu murid-murid Ko-san-pay yang lain seperti Su Ting-tat dan lain-lain juga tidak tinggal diam. Satu persatu mereka pun membunuh murid-murid Heng-san-pay yang berada di dalam <a href="http://duniainternet.net/belajar-seo/search-engine/ada-apa-dibalik-google-bagian-3.php">rahasia google</a> cengkraman mereka tadi.<br />
Melihat pembunuhan secara tak kenal ampun demikian, biarpun para hadirin yang hidupnya juga selalu bergelimangan di ujung senjata juga merasa ngeri. Ada beberapa orang tokoh angkatan tua mestinya bermaksud melerai, namun cara turun tangan jago-jago Ko-san-pay itu benar-benar teramat cepat. Baru sekejap saja di ruangan sidang <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009.html">Pemilu Indonesia 2009</a> itu mayat sudah bergelimpangan.<br />
Bila diingat bahwa selamanya antara golongan yang baik dan yang jahat tidak pernah berdiri bersama. Walaupun tindakan Ko-san-pay ini dirasakan agak terlalu ganas, namun tujuannya <a href="http://duniainternet.net/design-web/konsep-dasar-dalam-membuat-website-bagian-3.php">membuat website</a> bukanlah menuntut balas kepada Lau Cing-hong, tapi adalah terhadap Mo-kau yang merupakan musuh bebuyutan, maka apa yang dilakukan orang-orang Ko-san-pay itu dapatlah dimengerti. Pula waktu itu Ko-san-pay sudah menguasai keadaan, sampai-sampai Ting-yat Suthay dari Hing-san-pay juga terpaksa tinggal pergi tanpa bisa berbuat apa-apa. Tokoh lain seperti Thian-bun Tojin, Gak Put-kun juga hanya diam saja, dengan sendirinya orang luar lebih-lebih <a href="http://www.ateonsoft.com/">tutorial HTML</a> tidak  berani ikut campur mengenai urusan dalam Ngo-gak-kiam-pay mereka itu.<span id="more-14"></span><br />
Sementara itu, sesudah terjadi penyembelihan demikian, anak murid Lau Cing-hong sudah terbunuh semua dan hanya tinggal seorang putra kesayangan Lau Cing-hong yang paling kecil. Namanya Lau Kin.<br />
Usia Lau Kin baru saja 15 tahun. Wajahnya cakap otaknya cerdas. Sebelumnya Liok Pek sudah menyelidiki keluarga Lau Cing-hong dengan jelas bahwa bocah ini paling disayang oleh ayahnya. Maka sekarang ia pun hengak menundukkan Lau Cing-hong melalui bocah itu. Segera ia berkata kepada Su Ting-tat, “Coba kau tanya bocah itu mau minta ampun atau tidak. Jika tidak, potong saja hidungnya, lalu daun kupingnya, kemudian congkel biji matanya. Biarkan dia tahu rasa.”<br />
Su Ting-tat  mengiakan. Lalu berpaling kepada Lau Kin dan bertanya, “Ayo, kau mau minta  ampun atau tidak!”<br />
Wajah Lau Kin tampak  <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/download-gambar-foto-3gp-mpeg-film.html">foto cewek 17 tahun gratis</a> pucat dan badannya gemetaran.<br />
“Anak yang baik,” kata Lau Cing-hong. “Kakak-kakakmu telah mati dengan gagah berani. Kalau mati biar mati, kenapa mesti takut?”<br />
“Akan tetapi… akan tetapi mereka… mereka hen… hendak memotong hidungku dan… dan mencongkel mataku, Ayah… “ sahut Lau Kin dengan gemetar.<br />
“Hahahaha!” Lau  Cing-hong tertawa. “Keadaan sudah begini masalah <a href="http://duniainternet.net/pemilu-indonesia/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009-seo-contest.php"> kontes SEO kampanye pemilu</a> kau masih berharap akan  diampuni oleh mereka?”<br />
“Ayah, kau.. kau  boleh me… menyanggupi akan mem… membunuh paman Kik…”<br />
“Cih!” damprat Lau  Cing Hong sebelum  putranya bicara lebih lanjut. “Kau bilang apa, binatang?”<br />
Sementara itu Su Ting-tat sengaja mengangkat pedangnya dan dibolak-balik di depan hidung Lau Kin sambil mengancam, “Lekas berlutut dan minta ampun! Kalau tidak segera kupotong hidungmu! Satu… dua…”<br />
Belum lagi dia  mengucapkan ‘tiga’, cepat sekali Lau Kin sudah tekuk lutut dan memohon, “Jang…  jangan membunuh aku…”<br />
“Hahahaha! Untuk mengampuni kau juga boleh asalkan kau mesti mencela kesalahan Lau Cing-hong di depan para ksatria yang hadir di sini,” seru Liok Pek dengan tertawa.<br />
Dengan ketakutan Lau Kin berpaling ke arah ayahnya. Sinar matanya penuh rasa mohon dikasihani. Lau Cing-hong tetap tenang-tenang saja sejak tadi walaupun <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/cara-menambah-widget-header-pada.html">menambah widget header</a> menyaksikan anak istrinya terbunuh. Tapi sekarang dia benar-benar sudah teramat gusar. Bentaknya, “Binatang cilik! Apakah kau tidak punya perasaan? Lihatlah bagaimana keadaan ibumu dan kakak-kakakmu!”<br />
Tapi bukannya menjadi tabah, sebaliknya Lau Kin tambah takut demi memandang jenazah ibu dan para kakaknya yang bergelimpangan darah itu. Apalagi pedang Su Ting-tat masih terus <a href="http://freemusics-download.blogspot.com/2009/02/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009.html">Music kampanye</a> berkelebatan di depan hidungnya. Segera ia memohon kepada Liok Pek, “Aku mohon… mohon dengan sangat, sudilah kau meng… mengampuni ayahku.”<br />
“Ayahmu telah  bersekongkol dengan orang jahat dari Mo Kau. Kau bilang betul tidak  perbuatannya itu?” tanya Liok Pek.<br />
“Ti… tidak  betul!” sahut Lau Kin dengan suara lemah.<br />
“Orang demikian  pantas dibunuh atau tidak?” tanya Liok Pek lagi.<br />
Lau Kin tidak  berani menjawab. Kepalanya menunduk ke bawah.<br />
“Bocah ini tidak <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/belajar-ngeblog-yang-benar-1.html">belajar ngeblog yang benar</a> mau bicara. Boleh kau bunuh dia saja,” kata Liok Pek.<br />
Su Ting-tat mengiyakan. Ia tahu apa yang dikatakan sang paman guru itu hanya untuk menggertak saja, maka iapun pura-pura angkat pedangnya seperti akan menebas ke bawah.<br />
Lau Kin menjadi  ketakutan dan cepat-cepat menjawab, “Ya, pan… pantas dibunuh!”<br />
“Bagus!” kata  Liok Pek dengan tertawa. “Sejak <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/01/belajar-seo-juga-dapat-pr.html">belajar SEO</a> kini kau bukan lagi orang Heng-san-pay dan juga  bukan putranya Lau Cing-hong. Aku mengampuni jiwamu.”<br />
Rupanya saking  takutnya sehingga kedua kaki Lau Kin terasa lemas semua dan tidak kuat bangkit.<br />
Melihat tingkah laku bocah itu, para ksatria merasa gemas dan memandang hina kepadanya. Bahkan ada yang terus berpaling ke arah lain dan tidak sudi memandangnya.<br />
Tiba-tiba Lau Cing-hong menghela napas panjang, katanya, “Orang she Liok, kaulah yang menang!” Mendadak ia lemparkan panji pancawarna itu kepada Liok Pek, berbareng kaki kiri mendepak sehingga Hui Pin jatuh terguling. Lalu serunya lagi, “Seorang she Lau sudah mengaku kalah, rasanya <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/download-gambar-foto-3gp-mpeg-film.html">gambar dan film gratis</a> juga tidak perlu banyak menimbulkan korban lagi.” Segera ia palangkan pedang sendiri terus hendak menggorok leher untuk membunuh diri.<br />
Pada saat itulah tiba-tiba dari atas emper rumah melayang turun sesosok bayangan hitam dengan gerakan secepat kilat. Sekali tangannya menjulur, tahu-tahu pergelangan tangan Lau Cing-hong sudah terpegang. Terdengar orang itu membentak, “Seorang laki-laki harus membalas dendam, untuk <a href="http://www.ateonsoft.com/">tutorial HTML</a> mana sepuluh tahun  lagi juga belum terlambat. Pergi!” Berbareng orang  itu terus menyeret Lau Cing-hong dan berlari ke luar.<br />
“Kik-toako!” seru  Lau Cing-hong.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/10/seo-inilah-yang-tak-beretika/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Antara kampanye damai dan etika SEO</title>
		<link>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/09/antara-kampanye-damai-dan-etika-seo/</link>
		<comments>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/09/antara-kampanye-damai-dan-etika-seo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 23:33:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ateonsoft</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009]]></category>

		<category><![CDATA[Kampanye Damai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nagalangit.bedeng.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Ting Tiong tampak ragu-ragu. Sahutnya kemudian, “Permintaanmu ini aku dan Liok-sute tidak berani mengambil keputusan sendiri, tapi harus dilaporkan dulu kepada Co-bengcu dan minta petunjuknya.”
“Di sini sudah hadir juga para Ciangbun dari Thay-san-pay dan Hoa-san-pay. Hing-san-pay juga diwakili oleh Ting-yat Suthay. Selain itu Pemilu Indonesia 2009 para ksatria yang terhormat juga boleh ikut menjadi saksi,” [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ting Tiong tampak ragu-ragu. Sahutnya kemudian, “Permintaanmu ini aku dan Liok-sute tidak berani mengambil keputusan sendiri, tapi harus dilaporkan dulu kepada Co-bengcu dan minta petunjuknya.”<br />
“Di sini sudah hadir juga para Ciangbun dari Thay-san-pay dan Hoa-san-pay. Hing-san-pay juga diwakili oleh Ting-yat Suthay. Selain itu <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009.html">Pemilu Indonesia 2009</a> para ksatria yang terhormat juga boleh ikut menjadi saksi,” ujar Lau Cing-hong sambil memandang sekeliling kepada para hadirin, lalu menyambung, “Untuk ini akupun ingin mohon bantuan para sahabat agar suka mengingat rasa setia kawan, dapatlah kiranya menyelamatkan anggota keluargaku.”<span id="more-12"></span><br />
Ting-yat Suthay  adalah orang yang keras di luar tapi lunak di dalam. Meski <a href="http://www.ateonsoft.com/">tutorial HTML</a> wataknya berangasan, tapi hatinya sebenarnya welas asih. Dia yang membuka suara lebih dulu, “Cara demikian memang paling baik supaya tidak membuat susah kedua pihak. Ting-suheng, Liok-suheng. Bolehlah kita menerima saja permintaan Lau-hiante ini. Dia sudah berjanji takkan bergaul dengan <a href="http://duniainternet.net/belajar-seo/search-engine/ada-apa-dibalik-google-bagian-3.php">rahasia google</a> orang Mo-kau, juga akan jauh meninggalkan Tionggoan, itu berarti di dunia ini sudah tak terdapat lagi seorang Lau Cing-hong. Buat apa kita mesti berkeras akan melakukan pembunuhan pula?”<br />
Thian-bun Tojin juga  mengangguk, “Ya, cara demikian juga ada baiknya. Bagaimana pendapatmu, Gak-hiante?”<br />
“Jika Lau-hiante sudah menyatakan kesediaannya, sudah tentu kita dapat mempercayainya,” kata Gak Put-kun. “Marilah, biarlah kita ubah pertengkaran ini menjadi pertemuan yang menggembirakan. Lau-hiante, silakan kau melepaskan Hui-suheng. Marilah kita minum bersama satu cawan perdamaian. Besok pagi-pagi kau boleh membawa seluruh anggota keluargamu dan meninggalkan Heng-san.”<br />
Tapi Liok Pek lantas menanggapi dengan suara dingin, “Jika ketua-ketua dari Thay-san dan Hoa-san-pay sudah bicara demikian, apalagi Ting-yat Suthay juga menyokongnya dengan kuat, masakah kami berani membantah kemauan orang banyak? Cuma saja <a href="http://duniainternet.net/design-web/konsep-dasar-dalam-membuat-website-bagian-3.php">membuat website</a> Hui-sute kami saat ini berasa di bawah ancaman Lau Cing-hong. Jika kami lantas menerima permintaannya begini saja, kelak orang Kangouw tentu akan mengatakan Ko-san-pay terpaksa tunduk kepada Lau Cing-hong lantaran diancam dan tak berdaya. Jika hal ini tersiar, lalu kemana muka Ko-san-pay harus disembunyikan?”<br />
“Lau-sute kan minta kemurahan hati kepada Ko-san-pay dan bukannya mengancam. Darimana alasan untuk menatakan Ko-san-pay terpaksa tunduk karena diancam?” ujar Ting-yat.<br />
Liok Pek tidak  membantah lagi, ia hanya mendengus. Lalu ia berseru, “Siap sedia, Tik Siu!”<br />
Tik Siu, seorang  murid Ko-san-pay yang berdiri di belakang <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/download-gambar-foto-3gp-mpeg-film.html">foto cewek 17 tahun gratis</a> putra sulung Lau Cing-hong lantas  mengiyakan sambil menyodorkan pedangnya sehingga menempel di punggung  Lau-kongcu.<br />
Lalu dengan suara dingin Liok Pek berkata lagi, “Lau Cing-hong, jika ada sesuatu permintaanmu, bolehlah kau ikut kami ke Ko-san dan menemui Co-bengcu sendiri. Kami hanya bertindak berdasarkan perintah beliau dan tidak dapat mengambil keputusan apa-apa. Yang penting sekarang lekas kau kembalikan panji kebesaran itu dan melepaskan Hui-sute!”<br />
Lau Cing-hong  tersenyum pedih. Katanya kepada putranya, “Nak, kau takut mati atau tidak?”<br />
“Anak taat kepada  kata-kata ayah. Anak tidak takut!” sahut Lau-kongcu.<br />
“Anak yang baik,”  kata Lau Cing-hong.<br />
Mendadak Liok Pek  membentak, “Bunuh saja!”<br />
Segera Tik Siu  mendorong pedangnya ke depan sehingga <a href="http://duniainternet.net/pemilu-indonesia/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009-seo-contest.php"> kontes SEO kampanye pemilu</a> menembus punggung Lau-kongcu. Waktu pedang dicabut kembali, kontan Lau-kongcu jatuh tersungkur, darah segar muncrat keluar dari lubang lukanya.<br />
Nyonya Lau menjerit  sambil menubruk ke atas mayat putranya.<br />
“Bunuh!” bentak Liok  Pek lagi.<br />
Kembali Tik Siu  mengayun pedangnya. Sekali tusuk, punggung Lau-hujin tertembus pula.<br />
Ting-yat Suthay  menjadi gusar. “Binatang!” dampratnya sambil melontarkan pukulan ke arah  Tik Siu.<br />
Namun Ting Tiong  keburu menghadang di depannya dan <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/cara-menambah-widget-header-pada.html">menambah widget header</a> melontarkan pukulan juga. Kedua telapak tangan beradu. Rupanya tenaga Ting-yat kalah kuat, dia tergetar mundur dua tiga tindak. Dada terasa sesak, darah hampir-hampir menyembur keluar dari mulutnya. Namun sedapat mungkin ia tahan sehingga darah itu tersurut kembali ke dalam perut.<br />
“Maaf!” kata  Ting Tiong sembari tersenyum.<br />
Sebenarnya Ting-yat memang tidak mahir dalam hal tenaga pukulan. Apalagi yang ia serang tadi adalah Tik Siu yang terhitung kaum muda sehingga dia tidak mengeluarkan tenaga sepenuhnya. Tak terduga Ting Tiong mendadak menyambut pukulannya itu dengan <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/belajar-ngeblog-yang-benar-1.html">belajar ngeblog yang benar</a> sepenuh tenaga. Keruan Ting-yat tidak keburu mengerahkan tenaga lagi ketika kedua tangan beradu sehingga dia kalah. Saking gusarnya ia bermaksud menyerang lagi. Tapi waktu coba mengerahkan tenaga, terasalah tenaga dalam sukar dikerahkan lagi, perut rasanya tersayat-sayat. Ia tahu sudah terluka dalam dan tidak mungkin bertempur lagi. Segera ia memberi tanda kepada anak muridnya sambil berseru dengan gusar, “Kita berangkat semua!” Lalu dengan langkah-langkah lebar ia mendahului berjalan pergi. Para nikoh beramai-ramai lantas mengikuti jejak Ting-yat.<br />
“Bunuh lagi!”  tiba-tiba Liok Pek membentak lagi.<br />
Segera dua murid Ko-san-pay mendorong pedang masing-masing yang memang sudah mengancam di punggung tawanannya. Kontan dua murid <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/01/belajar-seo-juga-dapat-pr.html">belajar SEO</a> Lau Cing-hong terbinasa lagi.<br />
“Dengarkanlah para murid keluarga Lau!” seru Liok Pek. “Jika kalian ingin hidup, lekas kalian berlutut dan minta ampun. Kalian harus mencela perbuatan Lau Cing-hong yang salah. Dengan demikian kalian akan bebas dari kematian!”<br />
“Bangsat  keparat! Kalian jauh lebih ganas daripada orang-orang Mo-kau!” damprat putri  Lau Cing-hong yang bernama Lau Jing.<br />
“Bunuh!” bentak  Liok Pek.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/09/antara-kampanye-damai-dan-etika-seo/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perlukah etika SEO itu?</title>
		<link>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/07/perlukah-etika-seo-itu/</link>
		<comments>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/07/perlukah-etika-seo-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2009 03:31:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ateonsoft</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009]]></category>

		<category><![CDATA[Kampanye Damai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nagalangit.bedeng.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Suasana di ruangan sidang menjadi sunyi senyap. Selang sejenak, seorang laki-laki setengah umur telah berseru, “Lau-supek, maafkanlah kami!” Lalu ada belasan murid Heng-san-pay menyingkir dan berdiri di sebelah Ting-yat Suthay. Mereka adalah murid keponakan Lau Cing-hong. Sedangkan Pemilu Indonesia 2009 tokoh Heng-san-pay angkatan tua yang  sebaya dengan Lau Cing-hong kali ini tidak ada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suasana di ruangan sidang menjadi sunyi senyap. Selang sejenak, seorang laki-laki setengah umur telah berseru, “Lau-supek, maafkanlah kami!” Lalu ada belasan murid Heng-san-pay menyingkir dan berdiri di sebelah Ting-yat Suthay. Mereka adalah murid keponakan Lau Cing-hong. Sedangkan <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009.html">Pemilu Indonesia 2009</a> tokoh Heng-san-pay angkatan tua yang  sebaya dengan Lau Cing-hong kali ini tidak ada yang datang.<br />
“Murid keluarga  Lau sendiri disilakan juga berdiri ke sisi kiri!” seru Hui Pin pula.<br />
Tapi Hiang Tay-lian lantas berseru lantang, “Kami telah menerima budi besar dari perguruan. Bilamana Suhu ada kesukaran, sudah seharusnya <a href="http://duniainternet.net/belajar-seo/search-engine/ada-apa-dibalik-google-bagian-3.php">rahasia google</a> kami ikut memikul  tanggung jawab. Kini para murid keluarga Lau bertekad sehidup-semati dengan  Suhu.”<span id="more-10"></span><br />
“Bagus! Bagus!” kata Lau Cing-hong dengan air mata bercucuran saking terharunya. “Tay-lian, dengan ucapanmu ini kau sudah cukup berbakti kepada gurumu. Bolehlah kalian berdiri ke sebelah sana saja. Suhu sendiri yang berbuat, sedikitpun tiada sangkut pautnya dengan kalian.”<br />
“Sret,” mendadak Bi Wi-gi melolos pedang. Serunya, “Para murid keluarga Lau sudah tentu bukan tandingan Ngo-gak-kiam-pay. Tapi urusan hari ini tiada pilihan lain kecuali menghadapi dengan kematian. Siapa yang berani mengganggu guru kami boleh <a href="http://duniainternet.net/design-web/konsep-dasar-dalam-membuat-website-bagian-3.php">membuat website</a> silakan membunuh dulu orang she Bi ini!” Habis berkata ia terus berdiri di  depan Lau Cing-hong dengan gagah berani.<br />
“Huh, mutiara sebesar beras juga mau coba-coba bersinar?” ejek Hui Pin. Mendadak tangan kirinya bergerak. “Crit”, sejalur sinar perak yang kecil terus menyambar ke depan secepat kilat.<br />
Lau Cing-hong terkejut, cepat ia tolak lengan kanan Bi Wi-gi sehingga murid itu terlempat ke samping dengan sempoyongan, sedangkan sinar perak kecil itu terus menyambar ke dada Lau Cing-hong.<br />
Lantaran ingin melindungi sang guru, tanpa pikir Hiang Tay-lian terus menubruk maju. Maka terdengarlah jeritannya yang ngeri. Sinar perak yang berwujud jarum itu tepat menancap di tengah ulu hatinya. Kontan ia roboh dan binasa.<br />
Dengan tangan kirinya, Lau Cing-hong masih sempat merangkul tubuh muridnya itu. Ia coba periksa pernapasannya, dan ternyata sudah putus. Ia menoleh dan berkata kepada Ting Tiong, “Lo-loji, adalah Ko-san-pay kalian yang lebih dulu membunuh muridku!”<br />
“Benar,” sahut  Ting Tiong. “Memang kami yang turun tangan lebih dulu. Lalu kau mau apa?”<br />
Mendadak Lau Cing-hong angkat jenazah Hiang Tay-lian terus dilemparkan ke arah Ting Tiong. Melihat tenaga lemparannya itu, Ting Tiong tahu lwekang Heng-san-pay memang <a href="http://www.ateonsoft.com/">tutorial HTML</a> mempunyai keistimewaannya sendiri, apalagi Lau Cing-hong adalah tokoh terkemuka dari Heng-san-pay. Tentu tenaga yang digunakan tidak boleh dipandang enteng. Maka diam-diam iapun menghimpun tenaga dan siap menyambut datangnya tubuh tak bernyawa itu untuk kemudian akan dilemparkan kembali.<br />
Tak terduga  gerakan Lau Cing-hong itu ternyata hanya pancingan belaka. Tampaknya <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/download-gambar-foto-3gp-mpeg-film.html">foto cewek 17 tahun gratis</a> jenazah itu dia sodorkan ke depan tapi mendadak ia melompat ke samping. Jenazah itu diangkat dan disodorkan kepada Hui Pin. Karena datangnya terlalu cepat dan juga tidak tersangka-sangka, terpaksa Hui Pin mengerahkan tenaga pada kedua tangannya untuk menahan di depan dada. Tapi pada saat yang hampir bersamaan, tahu-tahu bawah iganya terasa kesemutan. Nyata Hiat-to bagian iga telah kena ditotok oleh Lau Cing-hong.<br />
Sekali serangannya  berhasil, secepat kilat tangan kirinya lantas digunakan untuk <a href="http://duniainternet.net/pemilu-indonesia/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009-seo-contest.php"> kontes SEO kampanye pemilu</a> merampas panji pancawarna dari tangan lawan. Tangan kanan berbareng melolos pedang terus dipalangkan di depan tenggorokan Hui Pin. Jenazah Hiang Tay-lian dibiarkannya jatuh ke lantai.<br />
Beberapa gerakan dan perubahan yang teramat cepat ini, Hui Pin kena dibekuk dan panji kebesarannya kena dirampas. Setelah semuanya ini terjadi barulah para hadirin sadar akan apa yang sudah terjadi. Yang digunakan Lau Cing-hong itu adalah kepandaian Heng-san-pay yang hebat, namanya ‘Pek-pian-jian-yu-cap-sah-sik’ (tiga belas gerakan dengan beratus macam perubahan).<br />
Sudah lama Thian-bun Tojin, Gak Put-kun dan tokoh-tokoh lain mendengar tentang ilmu silat andalan Heng-san-pay itu. Ada juga di antaranya pernah menyaksikan anak murid Heng-san-pay menggunakan kepandaian itu, tapi kalau dibandingkan caranya Lau Cing-hong yang hebat tadi sungguh bedanya seperti langit dan bumi.<br />
Kiranya ilmu ‘Pek-pian-jian-yu-cap-sah-sik’ itu adalah ciptaan tokoh seorang angkatan tua Heng-san-pay di masa yang lalu. Tokoh ini hidupnya dari main sulap di samping <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/cara-menambah-widget-header-pada.html">menambah widget header</a> memiliki ilmu silat yang amat tinggi. Sampai hari tuanya, kepandaiannya main sulap makin tinggi, kepandaian ilmu silatnya juga makin lihay. Akhirnya dia telah mencampurkan kedua macam ilmu kepandaiannya itu sehingga ilmu silatnya itu sedemikian lihainya seakan-akan orang main sulap saja. Dasar sifat tokoh angkatan tua itu memang jenaka, maksudnya menciptakan ilmu silat bergaya sulap itu sebenarnya <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/belajar-ngeblog-yang-benar-1.html">belajar ngeblog yang benar</a> hanya sekadar untuk permainan saja. Tak disangka akhirnya ilmu silat yang hebat itu telah menjadi salah satu di antara tiga jenis ilmu andalan Heng-san-pay.<br />
Sejak Lau Cing-hong mempelajari ilmu silat yang hebat itu belum pernah ia gunakan terhadap lawan. Siapa duga sekarang untuk pertama kalinya dipraktekkan terhadap jago Ko-san-pay seperti Hui Pin yang sesungguhnya tidak kalah lihay dari Lau Cing-hong dan tahu-tahu telah berhasil menawan musuh secara menakjubkan.<br />
Maka sambil tangan kiri mengangkat panji pancawarna ke atas, tangan kanan dengan pedang melintang di depan tenggorokan Hui Pin, segera Lau Cing-hong berseru, “Ting-suheng dan Liok-suheng, secara sembrono aku telah merampas panji pimpinan Ngo-gak kita. Sesungguhnya <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/download-gambar-foto-3gp-mpeg-film.html">gambar dan film gratis</a> aku pun tidak berani mengancam apa-apa  kepada kalian. Maksudku hanya ingin mohon pengertian kalian saja.”<br />
Ting Tiong saling pandang sekejap dengan Liok Pek. Pikir mereka, “Hui-sute telah jatuh di bawah cengkramannya, terpaksa kita harus menurut kepada apa yang dia inginkan.”<br />
Segera Ting  Tiong menjawab, “Apa yang hendak kau katakan lagi?”<br />
“Mohon Ting-suheng berdua suka menyampaikan kepada Co-bengcu agar aku diperbolehkan mengasingkan diri bersama segenap anggota keluargaku. Selanjutnya <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/01/belajar-seo-juga-dapat-pr.html">belajar SEO</a> aku takkan ikut sesuatu urusan dalam Bu-lim lagi,” demikian kata Lau Cing-hong. “Adapun hubunganku dengan Kik-toako juga terbatas sampai di sini saja. Selanjutnya kami takkan bertemu pula, begitu pula dengan para sahabat yang hadir di sini ini. Aku akan membawa segenap keluargaku pergi jauh dari sini. Selama hidup ini takkan menginjak kembali ke tanah Tionggoan sini.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/07/perlukah-etika-seo-itu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SEO untuk kampanye Damaiku</title>
		<link>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/06/seo-untuk-kampanye-damaiku/</link>
		<comments>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/06/seo-untuk-kampanye-damaiku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 23:18:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ateonsoft</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009]]></category>

		<category><![CDATA[Kampanye Damai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nagalangit.bedeng.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Lau Cing-hong tersenyum pedih, jawabnya, “Orang she Lau ini mencari sahabat, yang diutamakan adalah kecocokan lahir batin satu sama lain. Mana boleh sahabat sendiri dibunuh demi untuk menyelamatkan diri sendiri? Jikalau Co-bengcu sudah pasti tidak dapat memaafkan, apa mau dikata lagi? Terserah kepada kebijaksanaan Co-bengcu saja. Masakah orang she Lau yang tidak punya pengaruh Pemilu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lau Cing-hong tersenyum pedih, jawabnya, “Orang she Lau ini mencari sahabat, yang diutamakan adalah kecocokan lahir batin satu sama lain. Mana boleh sahabat sendiri dibunuh demi untuk menyelamatkan diri sendiri? Jikalau Co-bengcu sudah pasti tidak dapat memaafkan, apa mau dikata lagi? Terserah kepada kebijaksanaan Co-bengcu saja. Masakah orang she Lau yang tidak punya pengaruh <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009.html">Pemilu Indonesia 2009</a> apa-apa berani melawannya? Memangnya segala apa sudah diatur oleh Ko-san-pay kalian. Boleh jadi peti mati bagiku mungkin juga sudah kalian sediakan. Kalau mau turun tangan boleh silakan saja, mau tunggu kapan lagi?”<span id="more-8"></span><br />
Mendadak Hui Pin mengebakan panji kebesarannya. Serunya dengan suara lantang, “Para suheng dan sute dari Thay-san-pay, Hoa-san-pay, Hing-san-pay dan <a href="http://alkisah.ateonsoft.com/2009/02/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009.html" target="_blank">Kampanye Pemilu</a> Heng-san-pay! Menurut pesan dari Co-bengcu, selamanya antara Cing-pay dan Sia-pay (golongan baik dan jahat) tidak pernah hidup bersama. Mo-kau dan Ngo-gak-kiam-pay kita telah mengikat permusuhan sedalam lautan. Sekarang Lau Cing-hong dari Heng-san-pay bersahabat dengan kaum penjahat dan menggabungkan diri kepada musuh. Setiap anggota Ngo-gak-kiam-pay kita harus membunuhnya bersama-sama. Siapa yang tunduk kepada perintah Co-bengcu ini hendaklah berdiri ke sisi kiri.”<br />
Tertampaklah Thian-bun Tojin yang pertama-tama bangkit dan berjalan ke sebelah kiri dengan langkah lebar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Lau Cing-hong. Kiranya gurunya Thian-bun Tojin dahulu telah ditewaskan oleh seorang gembong wanita dari Mo-kau. Sebab itulah bencinya terhadap <a href="http://duniainternet.net/belajar-seo/search-engine/ada-apa-dibalik-google-bagian-3.php">rahasia google</a> Mo-kau boleh dikata merasuk tulang sumsum. Maka begitu dia menyisihkan diri ke sebelah kiri, segera anak muridnya juga ikut ke sebelah sana.<br />
Orang kedua yang bangkit adalah Gak Put-kun. Katanya, “Lau-hiante, asal kau manggut saja, maka orang she Gak ini akan mewakilkan kau membereskan Kik Yang itu. Kau bilang seorang jantan jangan sekali-sekali menghianati sahabat. Apakah di dunia ini hanya Kik Yang seorang saja adalah sahabatmu? Apakah orang-orang Ngo-gak-kiam-pay kita dan para ksatria yang <a href="http://duniainternet.net/design-web/konsep-dasar-dalam-membuat-website-bagian-3.php">membuat website</a> hadir di sini bukanlah sahabatmu? Ratusan, ribuan sahabat dari kalangan persilatan ini begitu mendengar engkau handak mengundurkan diri dari dunia persilatan, serentak mereka lantas datang dari tempat jauh untuk mengucapkan selamat kepadamu dengan segala ketulusan hati. Apakah tindakan mereka ini belum dapat dianggap sebagai sahabat? Sekalipun <a href="http://www.ateonsoft.com/">tutorial HTML</a> Kik Yang itu mahir memetik harpa, apa karena itu lalu jiwa segenap keluargamu serta persahabatan antara Ngo-gak-kiam-pay kita dan kawan-kawan yang hadir di sini kurang berharga daripada persahabatan dengan Kik Yang seorang?”<br />
Perlahan-lahan Lau Cing-hong menggelengkan kepala, sahutnya, “Gak-suheng, engkau adalah orang terpelajar dan tentu tahu apa yang pantas dilakukan seorang laki-laki sejati dan apa yang tidak patut diperbuat. Nasihatmu yang baik itu kuterima juga dengan rasa terima kasih. Akan tetapi <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/download-gambar-foto-3gp-mpeg-film.html">foto cewek 17 tahun gratis</a> orang lain memaksa aku membunuh Kik-toako, hal ini sekali-kali tidak dapat kulakukan. Sama halnya bila ada orang yang memaksaku membunuh engkau Gak-suheng atau salah seorang<a href="http://duniainternet.net/pemilu-indonesia/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009-seo-contest.php"> kontes SEO kampanye pemilu</a> sahabat yang hadir di sini. Biarpun seluruh anggota keluargaku tertimpa bencana juga takkan kulakukan. Kik-toako adalah sahabatku yang paling karib, hal ini sudah terang. Tapi Gak-suheng juga adalah sahabat baikku. Dan bila Kik-toako sampai membuka suara bermaksud mencelakai salah seorang sahabatku dari Ngo-gak-kiam-pay, maka perbuatannya itu tentu akan kupandang hina dan takkan menganggapnya sebagai sahabat lagi.”<br />
Karena ucapan Lau Cing-hong ini sangat sungguh-sungguh dan tulus kedengarannya, mau-tak-mau tergerak juga perasaan para ksatria. Maklumlah orang-orang persilatan paling mengutamakan budi setia antar kawan. Sedemikian tegas Lau Cing-hong membela Kik Yang, diam-diam para ksatria merasa gemas juga akan jiwa luhur tokoh Heng-san-pay itu.<br />
“Lau-hiante,” ujar Gak Put-kun. “Ucapanmu ini terang tidak betul. Lau-hiante mengutamakan setia kawan, hal ini memang mengagumkan. Tapi untuk itu juga harus dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, antara yang betul dan yang salah. Selama ini Mo-kau telah banyak berbuat kejahatan. Tidak sedikit orang Kangouw yang baik-baik telah menjadi korban keganasannya. Begitu pula <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/cara-menambah-widget-header-pada.html">menambah widget header</a> rakyat jelata yang tidak berdosa. Lau-hiante sendiri hanya karena merasa cocok dan sepaham dalam hal main musik lantas segenap jiwa anggota keluargamu juga kau pertaruhkan untuknya. Rasanya engkau telah salah mengartikan ‘setia kawan’ yang kau junjung tinggi itu.”<br />
Lau Cing-hong tersenyum hambar, katanya, “Gak-toako, engkau tidak suka seni suara, makanya tidak paham maksudku yang mendalam. Hendaklah maklum bahwa dalam ucapan dan kata-kata, orang dapat berdusta dan membohong. Tapi dalam seni musik, suara harpa dan seruling adalah suara hati yang tidak dapat dipalsukan atau dibikin-bikin. Kik-toako bersahabat denganku berdasarkan perpaduan suara harpa dan seruling. Jiwa kami telah saling mengikat. Aku bersedia menganggungnya dengan <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/belajar-ngeblog-yang-benar-1.html">belajar ngeblog yang benar</a> segenap jiwa anggota keluargaku bahwa Kik-toako meski betul adalah orang Mo-kau, tapi beliau sedikitpun tidak berbau jahat seperti orang Mo-kau yang lain.”<br />
Gak Put-kun menghela napas panjang. Dia tidak bicara lagi terus berjalan ke sebelah Thian-bun Tojin. Segera Lo Tek-nau, Gak Leng-san, Liok Tay-yu dan lain-lain mengikuti jejak sang guru.<br />
Sekarang  bergilir atas diri Ting-yat Suthay. Dengan <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/01/belajar-seo-juga-dapat-pr.html">belajar SEO</a> tajam ia menatap Lau Cing-hong. Katanya, “Selanjutnya aku tetap memanggil Lau-hiante padamu atau menyebut Lau Cing-hong saja?”<br />
Lau Cing-hong tersenyum getir, sahutnya, “Jiwa orang she Lau ini hanya tergantung sekejap lagi. Selanjutnya Suthay tiada sempat memanggil padaku lagi.”<br />
Ting-yat Suthay merangkap tangannya dan menyebut Budha, lalu perlahan-lahan berjalan ke sebelah Gak Put-kun dengan diikuti oleh anak muridnya.<br />
“Urusan ini  hanya menyangkut Lau Cing-hong seorang,” sahut Hui Pin kemudian. “Maka <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/download-gambar-foto-3gp-mpeg-film.html">gambar dan film gratis</a> tiada sangkut pautnya dengan murid-murid Heng-san-pay yang lain. Para murid Heng-san-pay yang tidak ikut membantu kejahatan dan mau sadar kembali boleh berdiri semua ke sebelah kiri.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/06/seo-untuk-kampanye-damaiku/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sekali dayung Damailah seluruh SEO</title>
		<link>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/05/sekali-dayung-damailah-seluruh-seo/</link>
		<comments>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/05/sekali-dayung-damailah-seluruh-seo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 23:17:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ateonsoft</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009]]></category>

		<category><![CDATA[Pemilu Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nagalangit.bedeng.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Lau Cing-hong menghela napas. Ia tunggu sesudah suara orang banyak rada tenang kembali barulah bicara dengan pelahan, “Sejak mulai bersahabat dengan Kik-toako sudah kuduga akan terjadi seperti hari ini. Melihat gelagatnya akhir-akhir ini, Pemilu Indonesia 2009 kutaksir tidak lama lagi Ngo-gak-kiam-pay kita tentu akan terjadi suatu pertarungan habis-habisan dengan Mo-kau. Di satu pihak adalah para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lau Cing-hong menghela napas. Ia tunggu sesudah suara orang banyak rada tenang kembali barulah bicara dengan pelahan, “Sejak mulai bersahabat dengan Kik-toako sudah kuduga akan terjadi seperti hari ini. Melihat gelagatnya akhir-akhir ini, <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009.html">Pemilu Indonesia 2009</a> kutaksir tidak lama lagi Ngo-gak-kiam-pay kita tentu akan terjadi suatu pertarungan habis-habisan dengan Mo-kau. Di satu pihak adalah para saudara serikat sendiri, di lain pihak adalah sahabat karib pula sehingga sukar bagiku untuk menentukan <a href="http://duniainternet.net/belajar-seo/search-engine/ada-apa-dibalik-google-bagian-3.php">rahasia google</a> pihak mana harus dibantu. Lantaran inilah aku mencari jalan dengan mengadakan upacara &#8216;cuci tangan&#8217; seperti sekarang ini. Maksudku adalah untuk mengumumkan kepada peserta pemilu 2009 para kawan kaum kita bahwa orang she Lau sejak kini telah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan tidak ikut campur kepada segala persengketaan orang Kangouw. Harapanku adalah supaya dapat hidup bebas tentram dan tidak tersangkut di dalam permusuhan dan bunuh membunuh. Tujuanku membeli suatu pangkat sekecil ini juga hanya untuk <a href="http://duniainternet.net/design-web/konsep-dasar-dalam-membuat-website-bagian-3.php">membuat website</a> menghindarkan diri dari kesukaran. Padahal pangkat sekecil ini sesungguhnya cuma membikin cemar namaku saja. Siapa duga Co-bengcu memang benar-benar maha sakti. Langkah yang kuambil ini toh tetap susah mengelabui dia.”<span id="more-5"></span><br />
Mendengar keterangannya ini barulah para ksatria mengerti duduknya perkara. Kiranya dia mengadakan upacara ‘cuci tangan di baskom emas’ ini sebenarnya <a href="http://www.ateonsoft.com/">tutorial HTML</a> mempunyai maksud tujuan sejauh ini. Pantas orang heran masakah seorang tokoh terkemuka dari Heng-san-pay sudi menjabat pangkat sekecil itu.<br />
Hui Pin juga saling pandang sekejap dengan kedua suhengnya, yaitu Ting Tiong dan Liok Pek. Mereka merasa puas karena Ciangbun-suheng mereka telah berhasil mengetahui maksud tujuan Lau Cing-hong itu dan keburu merintangi tepat pada waktunya.<br />
Maka terdengar  Lau Cing-hong sedang menyambung pula, “Tentang <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/download-gambar-foto-3gp-mpeg-film.html">foto cewek 17 tahun gratis</a> permusuhan antara Mo-kau dan golongan kita memang sudah sangat lama, dan berlarut-larut. Siapa yang benar dan siapa yang salah juga sukar untuk diceritakan. Yang kuharap hanyalah melepaskan diri dari persengketaan berdarah ini. Selanjutnya biar hidup tentram sebagai rakyat yang patuh kepada undang-undang negara dan menghibur diri dengan meniup seruling. Kurasa cita-citaku ini toh tidak sampai melanggar peraturan perguruan sendiri atau perjanjian antara Ngo-gak-kiam-pay kita.&#8221;<br />
“Huh, enak saja kau bicara,&#8221; demikian Hui Pin mendengus. “Jika setiap orang meniru kau, melarikan diri di saat akan menghadapi musuh, maka dunia ini pasti akan celaka dan dikuasai oleh <a href="http://duniainternet.net/pemilu-indonesia/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009-seo-contest.php"> kontes SEO kampanye pemilu</a> kaum iblis. Kau sendiri ingin melepaskan diri dari segala persoalan, tapi gembong Mo-kau she Kik juga mau berlaku seperti kau?&#8221;<br />
Cing-hong tersenyum, jawabnya, “Di hadapanku Kik-toako sudah bersumpah kepada cikal-bakal Mo-kau mereka untuk selanjutnya biarpun apa yang terjadi antara Mo-kau dengan kaum persilatan kita, maka Kik-toako sama sekali tak mau ikut campur lagi. Asal orang tidak mengusiknya, maka dia pun takkan mangganggu orang.”<br />
“Hahaha! Bagus amat istilah &#8216;asal orang tidak mengusiknya, maka dia pun takkan mengganggu orang,” dengus Hui Pin dengan tertawa. “Lalu bagaimana apabila kaum kita yang mengganggunya?”<br />
“Kik-toako sudah menyatakan bahwa beliau akan mengalah sedapat mungkin,&#8221; sahut Lau Cing-hong, “Sekali-sekali beliau takkan main menang-menangan dan bertempur dengan orang, bahkan akan berusaha sekuatnya untuk menghindarkan salah paham <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/cara-menambah-widget-header-pada.html">menambah widget header</a> kedua pihak. Kemarin juga Kik-toako telah mengirim berita padaku bahwa murid Hoa-san-pay yang bernama Lenghou Tiong telah dilukai orang, jiwanya dalam keadaan bahaya, tapi beliau telah memberi pertolongan seperlunya.”<br />
Ucapan ini  kembali membikin gempar para hadirin, lebih-lebih bagi orang-orang Hoa-san-pay,  Hing-san-pay, dan Jing-sia-pay.<br />
Dengan cepat Gak Leng-san, putri Gak Put-kun, lantas bertanya, “Lau-susiok, dimanakah Lenghou-suko berada sekarang? Apakah… apakah benar dia telah ditolong oleh…oleh Locianpwe she Kik itu?”<br />
“Jika begitu  ucapan Kik-toako, rasanya tentu benar adanya,” sahut Lau Cing-hong. “Untuk  <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/belajar-ngeblog-yang-benar-1.html">belajar ngeblog yang benar</a> jelasnya boleh kau tanya Lenghou-hiantit sendiri bila kelak kau bertemu dengan  dia.”<br />
“Huh, buat apa mesti mengherankan hal-hal begitu?” ejek Hui Pin. “Orang-orang Mo-kau memang paling pandai memecah-belah dan mengadu-domba. Segala tipu akal yang licik dapat dilakukan oleh mereka. Dengan segala daya upaya ia telah memelet murid Hoa-san-pay. Boleh jadi lantaran itu Lenghou Tiong menjadi merasa berterima kasih dan ingin membalas budi pertolongannya itu. Bukan mustahil sejak kini Ngo-gak-kiam-pay kita telah bertambah seorang penghianat.”<br />
Mendadak alis Lau Cing-hong menegak. Tanyanya dengan angkuh, “Hui-suheng, kau mengatakan sejak kini telah ‘bertambah lagi’ seorang penghianat. Apa <a href="http://www.ateonsoft.com/">belajar SEO</a> maksudmu dengan kata-kata  ‘bertambah lagi’ itu?”<br />
“Siapa yang berbuat,  dia harus tahu sendiri. Apa perlu aku jelaskan lagi?” sahut Hui Pin.<br />
“Hm, jadi secara langsung kau menuduh orang she Lau ini telah menjadi penghianat?” Tanya Lau Cing-hong. “Aku berkawan dengan siapa saja adalah urusan pribadiku. Orang luar tidak berhak untuk ikut campur. Selamanya Lau Cing-hong tidak merasa menghianati kawan dan mendurhakakan perguruan, maka istilah penghianat itu biarlah aku haturkan kembali kepadamu.”<br />
Tadinya sikap Lau  Cing-hong tampaknya ramah tamah sebagaimana <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/download-gambar-foto-3gp-mpeg-film.html">gambar dan film bokep gratis</a> layaknya seorang hartawan terhadap tamunya. Tapi sekarang mendadak sorot matanya memancarkan sinar yang tajam, sikapnya gagah berani. Walaupun berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan, dia tetap mengadu mulut dengan tidak kalah tajamnya dengan Hui Pin. Mau-tak-mau para hadirin merasa kagum juga terhadap ketabahannya.<br />
“Jika demikian, jadi sudah terang Lau-suheng tidak mau memilih jalan pertama dan tegas-tegas tidak mau membinasakan gembong she Kik dari Mo-kau itu?” Hui Pin menegas.<br />
“Bila memang sudah ada perintah dari Co-bengcu, tiada <a href="http://masakan.ateonsoft.com/">resep masakan</a> halangannya  sekarang <strong>gambar dan film gratis</strong> juga Hui-suheng turun tangan untuk membunuh segenap keluargaku,” sahut  Lau Cing-hong.<br />
“Huh, jangan kau mentang-mentang ada sekian banyak ksatria-ksatria dari segenap penjuru sedang bertamu di rumahmu ini dan mengira Ngo-gak-kiam-pay kami akan merasa jeri, lalu tidak berani mengadakan pembersihan kepada kaum penghianat?” demikian ejek Hui Pin. Mendadak ia memberi tanda kepada Su Ting-tat dan berseru, “Coba kemari!”<br />
Su Ting-tat mengiyakan sambil melangkah maju. Hui Pin mengambil panji pancawarna itu dari tangan Su Ting-tat, lalu diangkat tinggi-tinggi ke atas sambil berseru, “Dengarkanlah Lau Cing-hong! Atas perintah Co-bengcu, jika kau tidak mau berjanji untuk membunuh Kik Yang dalam <a href="http://www.ateonsoft.com/">tutorial HTML</a> waktu sebulan, maka terpaksa Ngo-gak-kiam-pay harus segera mengadakan pembersihan di antara anggota-anggotanya sendiri untuk menghindarkan bencana di kemudian hari. Babat rumput harus sampai akar-akarnya, sedikitpun tidak kenal ampun. Untuk ini hendaklah kau pikirkan lagi semasak-masaknya!”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nagalangit.bedeng.com/2009/03/05/sekali-dayung-damailah-seluruh-seo/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009</title>
		<link>http://nagalangit.bedeng.com/2009/02/07/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009/</link>
		<comments>http://nagalangit.bedeng.com/2009/02/07/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 21:05:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ateonsoft</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009]]></category>

		<category><![CDATA[Pemilu Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Damai Pemilu Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Kampanye 2009]]></category>

		<category><![CDATA[Kampanye Damai]]></category>

		<category><![CDATA[Kampanye Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Kampanye Pemilu]]></category>

		<category><![CDATA[Pemilu Indonesia 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nagalangit.bedeng.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Agak berubah muka Khu Pek Sim, ia seperti tahu apa yang dikehendaki bocah ini. Dia memang jarang di rumah, tugasnya menuntut kehidupan yang lebih banyak dihabiskan di jalan. Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009
Tapi setiap kali ada kesempatan, dia berusaha memanjakan cucu luarnya ini. Hanya maunya bocah ini sangat sedikit.
Begitu memasuki usia membaca, hobinya mengurung diri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agak berubah muka Khu Pek Sim, ia seperti tahu apa yang dikehendaki bocah ini. Dia memang jarang di rumah, tugasnya menuntut kehidupan yang lebih banyak dihabiskan di jalan. <a href="http://www.ateonsoft.com/2009/02/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009.html">Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009</a></p>
<p>Tapi setiap kali ada kesempatan, dia berusaha memanjakan cucu luarnya ini. Hanya maunya bocah ini sangat sedikit.</p>
<p>Begitu memasuki usia membaca, hobinya mengurung diri di kamar, tenggelam oleh buku bukunya. Kadang kadang suka juga ia bermain dibukit belakang, sendirian.</p>
<p>Tapi belakangan ini, setiap ada kesempatan, cucunya selalu <a href="http://alkisah.ateonsoft.com/2009/02/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009.html" target="_blank">kampanye damai pemilu Indonesia 2009</a> menanyakan soal yang itu itu juga. Soal yang Khu Pek Sim enggan membicarakannya.</p>
<p>Bergetar bibi Khu Han Beng ketika bertanya:<br />
“Bukankah yaya pernah bilang, jika aku sudah besar, yaya akan menceritakan mengenai ayah-ibu?”</p>
<p>Khu Pek Sim menghela napas:<br />
“Kau memang sudah sebesar dan setinggi yayamu, hanya kau tetap belum dewasa”<br />
“Bukankah seorang dianggap dewasa, jika sudah berani bertanggung jawab?”<br />
“Yaa, kira kira begitu.”</p>
<p>Khu Han Beng dengan cepat mendesak kakeknya:<br />
“Untuk yang kedua kali, aku memimpin Liok Yang Piaukok selama kepergian yaya, bukankah hal ini bisa dianggap aku bertanggung jawab dan mampu melakukannya?”</p>
<p>Khu Pek Sim terdiam, katanya dengan perlahan: <strong><a href="http://www.albri.co.cc/2009/02/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009.html" target="_blank">kampanye pemilu Indonesia 2009</a></strong><br />
“Kenapa kau selalu ingin tahu urusan ini?”</p>
<p>Melihat kali ini yaya-nya tidak berang, dengan cepat Khu Han Beng menjawab:<br />
“Ku tahu she-ku mestinya mengikuti she ayahku, yang jelas bukan she Khu seperti she yaya. Aku juga tahu riwayat hidup orang tuaku tentu mempunyai liku liku sehingga <a href="http://ateonsoft.wordpress.com/2009/02/07/deklarasi-kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009/">Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009</a> yaya enggan menceritakannya padaku. Tapi bukankah seorang anak mempunyai hak untuk mengetahui perihal orang tuanya?”</p>
<p>Khu Pek Sim menarik napas dalam dalam.<br />
“Aiiih&#8230;.Inilah akibatnya kalau seorang anak gemar baca buku. Ucapan dan usianya benar benar tidak sebanding” gumamnya perlahan.</p>
<p>Dia tahu, cepat atau lambat, dia harus memberitahu persoalan ini kepada Khu Han Beng. Tapi apa sekarang? Dia agak ragu.</p>
<p>“Urusan ini <a href="http://download.ateonsoft.com/2009/02/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009.html" target="_blank">kampanye damai pemilu Indonesia 2009</a> akan jauh lebih mudah, jika kau sudah menguasai ilmu silat” ujarnya sedih.</p>
<p>Khu Han Beng membuka mulutnya, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi.</p>
<p>Khu Pek Sim termenung. Cucunya tidak suka berlatih silat, setiap kali dia mendesak, Khu Han Beng hanya tersenyum sambil menggeleng.</p>
<p><strong>Bersambung&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</strong></p>
<blockquote><p><span style="color: #006600">Cerita silat ini dibuat dalam rangka <a href="http://www.ateonsoft.com/"><strong>belajar SEO</strong></a>, agar menunjang dalam <a href="http://www.ateonsoft.com/"><strong>belajar ngeblog</strong></a>, sekaligus memahami cara membuat anchor text dalam teori <a href="http://www.ateonsoft.com/"><strong>tutorial HTML</strong></a>. </span></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nagalangit.bedeng.com/2009/02/07/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
